Bayi kecil lahir dengan bentuk atau ukuran kepala yang berbeda-beda. Mengapa? Apakah ukuran kepala ini mempengaruhi otak dan kecerdasan bayi? Simak apa kata pakar, dan bagaimana stimulus tepat untuk meningkatkan otak dan kecerdasan anak.

Begitu dilahirkan, bayi merah langsung menjalani serangkaian tes Apgar. Yakni tes untuk mengetahui kondisi bayi. Termasuk lingkar kepala bayi akan diperiksa lho, untuk mengetahui lingkar kepalanya normal, ataukah ada yang perlu diwaspadai.

Lingkar kepala bayi memang berbeda-beda. Diameternya dikatakan normal, menurut Dr. R. Anna Tjandrajani, Sp.A., mengutip penelitian DR. G. Nellhaus dari RS. Napa di California AS, berkisar 30 sampai 37 cm. Lingkar kepala ini akan bertambah 2 cm per bulan pada usia 0-3 bulan. Selanjutnya di usia 4-6 bulan akan bertambah 1 cm per bulan, dan pada usia 6-12 bulan pertambahannya 0,5 cm per bulan “Bila ukurannya kurang ataupun lebih, harus diwaspadai. Kurang dari 30 cm, kemungkinan besar ada gangguan mikrosefalus. Sebaliknya lingkar kepala lebih dari 37 cm, memungkinkan ia terkena hidrosefalus yang bisa menyebabkan perkembangan otak tidak sempurna,” jelas Anna.

Mengapa diameter kepala bayi baru lahir berbeda-beda? Bukan hanya diameternya, bahkan juga bentuknya. Panjul, peyang, rata atau bundar dan berbagai macam bentuk lainnya. Menurut Anna, besar kecilnya ukuran lingkar kepala anak dipengaruhi faktor keturunan. Ukuran lingkar kepala anak tidak jauh berbeda dengan ukuran lingkar kepala orang tuanya bila mereka dewasa kelak.

Ditegaskan Anna tak ada pengaruhnya dengan kecerdasan bayi. Tetapi, ukuran lingkar kepala berkaitan dengan volume otak. Seperti diketahui, volume bayi baru 350 gram. Artinya, bila diameter kepala bayi sekitar 30 cm, maka volume otaknya bisa kurang dari itu. Hanya saja, “bukan berarti bila volumenya kurang, anak jadi kurang potensi kecerdasannya. Setelah lahir pertumbuhan otak akan makin pesat sesuai dengan stimulus yang diberikan orangtua dan lingkungan,” tegas Anna.

Begitu juga perbedaan bentuk kepala, tak ada kaitan sama sekali denga kecerdasan dan volume otak. Kata Anna, hanya disebabkan oleh tulang kepala bayi yang masih lunak. “Bila salah satu sisi kepala menerima tekanan terus menerus, jangan heran jika kepala menjadi rata, atau peyang. Umumnya ini terjadi karena orangtua takut merubah posisi tidur anak. Bentuk kepala ini tidah membahayakan atau menganggu kecerdasan. Bentuk kepalanya saja yang kelihatan jelek.”

Orang tua, saran Anna, memang harus memperhatikan betul pada ukuran lingkar kepala buah hatinya. Namun, bila pertumbuhan lingkar kepalanya sudah sesuai dengan pertumbuhan anggota badan yang lainnya, berarti tak ada masalah. Dengan menerapkan gizi yang baik selama kehamilan dan pasca melahirkan, memberikan ASI eksklusif, ditambah stimulus yang tepat, maka ukuran kepala, tepatnya peningkatan volume otak anak jadi cepat, dan mendukung kecerdasannya.

Selain mengukur lingkar kepala, memeriksa ubun-ubun anak sangat perlu dilakukan guna mengetahui perkembangan otak anak. Ubun-ubun ini menandai perkembangan dan pertumbuhan otak anak berlangsung secara normal atau tidak. Jelas Anna, penutupan ubun-ubun yang normal berlangsung pada usia 6 sampai 19 bulan. “Jika bayi yang baru lahir ubun-ubunnya sudah menutup atau proses menutupnya terlalu cepat dari waktu yang sudah ditentukan, memungkinkan sekali pertumbuhan dan perkembangan otaknya terganggu. Dan akibatnya, pertumbuhan kecerdasannya pun bisa terganggu pula.”

Dua Tahun Masa Terpenting
Pertumbuhan dan perkembangan otak merupakan peristiwa sangat kompleks yang dipengaruhi faktor gizi, genetik atau bawaan dan faktor lingkungan. Pertumbuhan ini berlangsung sejak janin berada dalam kandungan dan pada masa setelah lahir. Menurut Anna, Untuk mendapatkan anak yang berkualitas baik di kemudian hari, orang tua, khususnya ibu, harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Persiapan itu mencakup sejak perencanaan kehamilan, asupan gizi saat hamil, bersalin, kemudian perawatan dan stimulasi anak setelah dilahirkan. “Bayi yang dilahirkan tanpa pemberian gizi yang cukup selama di dalam kandungan bisa mengakibatkan tingkat kecerdasannya bermasalah,” tegas Anna.

Setelah anak dilahirkan, perawatan dan stimulasi orangtualah yang berperan penting dalam pertumbuhan otak dan kecerdasan anak. Terutama pada usia 2 tahun pertama yang merupakan masa-masa terpenting dalam perkembangan otak anak (lihat boks). Karena itu, Anna menganjurkan agar setiap kali imunisasi, ukuran lingkar kepala si bayi juga harus dikontrol. “Apabila saat kontrol diketahui lingkar kepala si bayi ukurannya sudah di bawah atau di atas garis normal, bayi harus segera dieksplorasi,” katanya.

Dalam fase ini orang tua juga harus menjaga jangan sampai si bayi mengalami kelainan atau penyakit yang bisa merusak sel-sel otak. Misal, infeksi radang otak, hidrosefalus, tumor, infeksi susunan pusat yang lain, yang bisa menghambat perkembangan otak. Karena itu, pencegahan sejak dini untuk menghindari terjadinya kelainan-kelainan di atas menjadi penting. Misalnya, konseling sebelum menikah dan sejak merencanakan untuk punya anak. “Lakukan kontrol kehamilan secara teratur. Sehingga kalau ada kelainan bisa dideteksi sedini mungkin. Kalau perlu lakukan tes penting seperti toksoplasma, rubella, dan sebagainya,” lanjut Anna.

Ibu yang tengah mengandung juga harus mengkonsumsi makanan yang bergizi, ditambah vitamin khusus untuk mencegah kelainan syaraf. “Misalnya mengkonsumsi asam folat sejak sebelum hamil untuk mencegah gangguan penutupan tulang belakang yang merupakan salah satu gangguan pada otak.

Waspadai Kepala Terlalu Kecil & Besar
Ukuran lingkar kepala bayi normalnya berkisar 30 sampai 37 cm. Lingkar kepala ini akan bertambah 2 cm per bulan pada usia 0-3 bulan. Selanjutnya di usia 4-6 bulan akan bertambah 1 cm per bulan, dan pada usia 6-12 bulan pertambahannya 0,5 cm per bulan.

Lingkar kepala bayi baru lahir kurang dari 30 cm, atau lebih besar dari 37 cm, menurut Anna kemungkinan besar ada gangguan penyakit. Yakni mikrosefalus atau hidrosefalus. Tanda penyakit Mikrosefalus, semenjak lahir ukuran lingkar kepala bayi kurang dari 30 cm dan ubun-ubunnya telah tertutup semenjak lahir. Kondisi bayi seperti ini, perkembangan otaknya akan terganggu. “Kalau perkembangan otak nggak sempurna, dengan sendirinya kemampuan masing-masing bagian otak juga nggak sempurna. Ini akan berpengaruh pada kemampuan intelegensi, kemampuan motorik, kemampuan emosi, sosial, dan sebagainya,” ungkap Anna yang juga berpraktik di Klinik Anakku Cinere.

Sedang Makrosefalus terjadi karena ukuran lingkar kepala bayi baru lahir melebihi normal yaitu di atas 37 cm. Bahkan melebihi perkembangan anggota tubuh lainnya. Biasanya bayi yang tergolong makrosefalus terjangkit penyakit Hidrosefalus. Yaitu pengumpulan cairan di dalam otak. Dampaknya sama seperti pada penderita mikrosefalus.

5 Cara Mencerdaskan Anak

1. Stimulus Pra Lahir
Selain makanan bergizi, ibu dan ayah pun harus aktif memberi stimulus lainnya. Misalnya mengajak berbicara, memperdengarkan musik, diyakini dapat meningkatkan pembentukan sel-sel otak janin.

2. Pemberian ASI Ekslusif
Memberikan ASI secara eksklusif selama usia bayi 0 – 6 bulan, tanpa dicampur dengan makanan (bubur susu, saring, biskuit, buah) dan cairan lain (susu formula, sari buah, air putih), dapat memudahkan ASI dicerna bayi. ASI mengandung DHA dan kolesterol yang paling penting untuk pembentukan sel otak. Dalam ASI terdapat sejumlah enzim yang diperlukan untuk mencerna DHA. Enzim-enzim ini tak terdapat pada makanan atau minuman lain.

3. Memberi Anak Gizi Seimbang
Pemberian gizi yang baik dan benar seperti mengkonsumsi makanan yang kaya protein, asam folat, mineral dan nutrisi sejak awal kehamilan hingga usia anak 5 tahun sangat menunjang perkembangan dan kecerdasan anak.

4. Beri Stimulasi
Pesatnya tumbuh kembang otak pada bayi yang baru lahir sampai umur dua tahun, akan berkembang jika selalu diberikan stimuli. Misalnya dengan permainan yang merangsang otaknya. Berbagai macam bentuk dan warna permainan yang diberikan, akan memperkuat daya ingatnya untuk mengenal lebih banyak lagi benda maupun bentuk benda-benda yang ada di sekelilingnya.

5. Selalu Memberi Kesempatan
Dengan memberi anak kesempatan eksplorisasi mereka akan tumbuh menjadi anak cerdas dan lebih kreatif.
(Anton, Esi)

Sumber: Tabloid Ibu Anak